Rabu, 28 Februari 2018

WWE 2018 Elimination Chamber Re's Rant!

FUCK YOU, VINCE MCMAHON!!!!
Oke... Take a deep breath...

Minggu kemaren (Senen pagi WIB) event PPV terakhir Raw sebelum Wrestlemaia 34 bergulir. Ada lima pertandingan: Women Elimination Chamber for Raw Woman Championship, Titus Worldwide vs. The Bar© for Raw Tag titles, Asuka vs. Nia Jax, dan Men Elimination Chamber for number one contender for WWE Universal Champion. Let me rant on each match.

Raw Women’s Title Elimination Chamber Match: Alexa Bliss © vs. Bayley vs. Mandy Rose vs. Mickie James vs. Sonya Deville vs. Sasha Banks

Here's the thing, I only have 2 rant about this match, first I hate how they book Deville and Rose. Absolution were dominant few months back, but now, they make 'em just as cannon fodder. Seolah-olah satu-satunya alasan mereka dinaikin ke main roster supaya WWE punya cukup pegulat wanita buat Women Royal Rumble, and that's it. Raw tetep aja didominasi Bliss, Banks, Bayley and Nia. Second, Bliss vs Asuka seems... weak, don't you think? Aku berharap bakal jadi triple threat antara Banks © vs. Bayley. vs Asuka, oh well, Bayley vs. Banks cukup menarik tanpa title anyway.

Winner: Alexa Bliss.

Raw Tag Team Title Match: Sheamus & Cesaro © vs. Apollo & Titus O’Neil

Raw tag team was in a mess, and still is. The Bar yang seharusnya bakal rame saat ditandingin lawan The Shield, harus di downgrade buat ngelawan Titus Worldwide. And both Titus and Apollo were bland. Mereka ga bisa jadi threat yang cukup kuat buat The Bar. Semoga di WM nanti mereka bakal dipasangin sama The Revival.

Winner: Sheamus & Cesaro.

Singles Match: Nia Jax vs. Asuka – If Jax Wins, She’s Added To Raw Women’s Title Match at WrestleMania 34

Here's the funniest thing about WWE and NXT relationship, WWE cuma nganggep beberapa fakta di NXT benar, tapi tidak menganggap fakta lainnya. Sebagai contoh, WWE mengagung-agungkan rekor tak terkalahkan Asuka selama 3 tahun, tapi nyuruh Nia Jax buat ngomong kalo Asuka ga pernah ngalahin dia, padahal Nia Jax udah dikalahin Asuka di NXT. It's funny how WWE think we are that stupid. I'll be pissed off as fuck if WWE decided to make Nia Jax win here and broke her record. But the way Asuka win and the beatdown Nia done to Asuka, it probably her that will broke Asuka record someday.

Winner: Asuka.

Ronda Rousey signing segment.

I really really really hoped that Rousey would face Charlotte in WM for SD women champion, but, it looks like we will get Triple H and Stephanie Mcmahon vs. Kurt Angle and Ronda Rousey. It's not that I am complaining but the fued was somewhat comical as fuck. Kurt manas-manasin Rousey buat ga percaya sama HHH and Steph, oh well, at least it won't be as boring as the WM soon-to-be main event right, RIGHT???

Men’s Elimination Chamber Match: Elias (Last Entrant) vs. Braun Strowman vs. John Cena vs. Roman Reigns vs. The Miz (First Entrant) vs. Finn Balor vs. Seth Rollins

Okay, let's first address the big Samoan elephant in the room. We all knew it would happen soon or later, we all did, Reign will headlining Wrestlemania facing Lesnar for Universal champion. It was written amongst star already, so lets just take a deep breath, and move on, shall we? Let Vince have his wet dream. Well, at the very least we will have a Universal Champion that will be there every single week.

Winner: Roman Reign.

Now, lets talk about Strowman. Dia dibikin terlihat sekuat itu, nge-eliminasi semua orang kecuali Reign, tapi lucunya, dia belum dapat lawan yang fix buat WM kedepan. Ada rumor bahwa Strowman bakal ngelawan The Miz for Intercontinental Champion, but come on, Miz bahkan dengan Miztourage nya ga bakal bisa jadi Threat yang believable buat Strowman. In my perfect world, biarin Strowman lawan Triple H or John Cena, dan menang.

Well, that's it folks. Thank you for listening this absurd rant of mine. See you after Fastline for another WWE rant~ 

Rabu, 21 Februari 2018

Rasanya Punya Dissociative Personality Disorder a.k.a Kepribadian Ganda

"Awalnya, aku merasa kayak makin sering bingung dan disorientasi tempat dan waktu. Kayak pas makan dan tiba tiba ada di sekolah, atau kayak pas mau tidur tapi tiba tiba ada di mall--lagi belanja barang barang, yang dalam keadaan normal bakal kutoleh pun enggak. Kayak ngelompati waktu tanpa sadar, dapet luka luka tanpa sebab (belakangan aku tahu itu ulahnya Zack, penumpang lain yang yang datang tanpa diundang); kaget ketemu beberapa orang yang entah gimana caranya bisa kayak udah akrab sama aku--dan nggak jarang manggil aku dengan nama yang berbeda. Aku ngeri, makin kesini intensitas ke-tidak waras-anku makin menjadi dan makin mengganggu. Aku jadi gampang capek, sering ketiduran pas lagi aktifitas (padahal seingetku aku tidur cukup setiap malam), sering pusing dan beberapa gangguan fisik ringan kayak demam atau nyeri.

Aku masih umur 14 tahun waktu itu--waktu aku mulai sadar kalo memang ada yang salah dari badanku. Supaya kalian nggak bingung, aku ceritain sedikit tentang masa kecilku. Aku terlahir kembar--aku dan adik perempuan--di usia kehamilan 6 bulan. Sama seperti semua bayi kembar lainnya, aku tumbuh sebagai bayang bayang dari kembaranku--adik perempuan yang tumbuh jauh lebih cemerlang. Ibarat satu adonan dibagi dua, adekku dapet sebagian besar adonan utama sementara aku dapet remah remahnya. Adikku tumbuh jauh lebih sehat dan ceria, sementara aku dari sononya emang lebih ringkih dan lebih diem. Aku lebih suka main sendiri sama isi kepalaku yang ramenya kayak pasar malam--aku tenggelam di dunia yang kubangun sendiri. Awalnya, aku masih bisa dijangkau mereka yang sekedar ingin tahu, tapi lama lama bahkan mereka yang awalnya antusias pun lebih suka sibuk sendiri, aku tenggelam dalam dunia yang sunyi tanpa suara. Kami--aku dan orang orang di sekitarku nggak pernah merasa perlu saling mempelajari bahasa satu sama lain karena buatku, aku bisa ditinggal sendiri dan nggak merasa sepi; sementara mereka, berpikir bahwa aku akan berubah sendiri kalo sudah besar.

Jadi bayangan itu nggak selalu enak, walaupun tuntutan sosial yang aku terima nggak sebesar yang dibebankan buat si kembaran. Aku masih dituntut untuk nggak bikin malu--nggak bikin onar, duduk manis dan menjawab sopan setiap kali ditanya sesuatu. Gara gara ini, tiap kali ada masalah yang menimpa, titik salahnya selalu ada di posisiku. 'Salahmu begini, salahmu begitu, siapa suruh kamu gini gitu. Otomatis aku jadi makin terisolasi didalem benteng buatanku sendiri. Sepanjang yang aku bisa ingat, aku nggak pernah merasa kesepian, walopun aku nggak yakin saat itu aku sudah nggak sendirian.

Makin besar, aku ngerasa makin berbeda, aku ngerasa kayak keping puzzle yang salah tempat--tapi terus memaksakan diri. Saat itu aku mulai mempertanyakan segala sesuatu yang bisa diterima tanpa tanya sama orang orang sekitarku. Budaya patriaki, pola pembagian kerja laki laki perempuan, tindakan yang pantas dan enggak, sampe hal sesederhana 'kenapa rambutku harus dibiarkan panjang, sementara temen laki lakiku nggak boleh manjangin rambut selewat telinga'. Kenapa kita nggak mendapatkan kebebasan untuk semua orang menentukan apa yang dia suka atau enggak. Kenapa ada anak durhaka sedangkan orang tua enggak. Oke, aku terdengar seperti feminazi di paragraf ini.

Aku mulai membenci badanku--dan identitasku sebagai perempuan. Menurutku, jadi perempuan itu kutukan, belenggu. Aku harus merelakan kebebasanku dilucuti satu persatu waktu aku tumbuh makin dewasa. Aku nggak pernah bisa rela. Aku kagum sekaligus heran ngeliat perempuan perempuan lain diluar sana yang bisa dengan nyaman menerima dan menjalani peran yang dibebankan tanpa tanya. Di ulang tahunku ke 15 aku bersumpah untuk tumbuh sekuat dan semandiri laki laki--aku nggak butuh mereka untuk mencapai semua mimpiku. Aku nggak tahu sih, kalo suatu hari sumpahku itu bakal bikin aku ngeri sendiri.

Kejanggalan pertama terjadi setelah beberapa hari. Suatu pagi aku bangun dengan ide aneh yang bertahan sampai beberapa minggu kemudian. Aku pengen motong rambutku, habis. Aku pengen ngelepas pelan pelan image perempuan yang lemah (menurutku saat itu--maap buat yang terpelatuk) dari badanku. Aku kira ini hanya gara gara aku sering diremehkan hanya karena aku perempuan--kurus sebiting lagi. Berhubung waktu itu aku masih terlalu cupu dan nggak tahu kemana harus cari tahu tentang apa yang salah, aku cuma bisa diam dan menyimpan semuanya sendiri. Mereka belum boleh tahu.

Semakin besar, hubunganku dengan keluarga jadi makin renggang. Bahasa kami berbeda, circle kami berkembang ke arah yang berbeda. Aku nggak lagi merasa hilang, aku menemukan rumah di tempat asing yang dibenci mereka. Akibatnya, keluargaku yang panik dan merasa terancam lebih sering memberikan hukuman dan bertindak paksa, sementara aku--karena melindungi diri--jadi makin rapat mengunci diri didalem benteng yang sudah kubangun sejak lama. Aku makin punya banyak waktu untuk menjelajah labirin pikiranku sendiri, belajar memahami apa yang sebenernya terjadi didalem sini. Lalu aku ketemu dia, untuk pertama kali. Dia menunggu, tenang, sendirian. Aku ketakutan.

Aku kira aku sudah gila. Beberapa kali dia mencoba menembus membran yang memisahkan kesadaran kami, tapi gagal entah kenapa. Just in case kalian penasaran, kami hidup berdampingan tapi nggak pernah bisa saling ketemu. Kayak siang dan malam, matahari dan bulan, kayak berdiri di masing masing sisi mata uang. Ternyata, selama aku bersikap egois dan mengacuhkan badanku sendiri untuk menderita dan (hampir) mati, dia yang mengurus badan kami, karena menurutnya ini badannya juga, walaupun dia tahu diri disini dia hanya penumpang gelap yang tidak pernah diinginkan. Dia sosok yang mungkin tanpa sadar kubangun sendiri dari tumpukan rasa benci dan tinggi hati. Selama ini, ternyata dia laki laki yang selalu kulihat sekilas waktu aku terlalu depresi dan nggak pengen lagi liat matahari. Dia itu si hantu--bayangan yang berkelana dari mimpi ke mimpi. Dia sumber kejanggalan yang sering disindir halus sama orang orang disekitarku, "Kamu kelihatan beda ya dari yang kapan hari ..". Dialah yang paling kucari, sekaligus yang paling kutakuti. Sekarang aku tahu darimana sumbernya. Ternyata dari dalam kepalaku sendiri.

Manusia selalu takut dengan segala sesuatu yang tidak dia kenali, sama seperti aku yang ketakutan setengah mati sama dia yang ternyata menghuni satu badan yang sama. Dia seperti menegaskan status burukku sebagai anomali. Mau tau apa reaksiku? Aku menyusun strategi perang. Aku harus bisa mengusir penyusup itu keluar dari sini. Aku lupa, aku dan dia itu satu. Kami mungkin tidak akan jadi berharga jika kehilangan salah satunya. Apa yang akan aku lakukan ini mungkin akan melukai diriku sendiri. Waktu itu, aku terlalu egois buat ambil peduli.

Perang itu berlangsung lama dan berat--beberapa tahun seingatku. Kondisi fisik dan mentalku menurun drastis, sama persis seperti kota yang hancur akibat peperangan. Aku sering membiarkan badanku kotor, luka, terpapar panas dna hujan, kelaparan dan hampir mati dengan satu harapan--supaya dia segera pergi. Aku nggak tahu, bahwa sama sepertiku, dia juga terjebak didalem sini. Siapa sih yang mau jadi pemeran pengganti. Emosiku berbuah dengan cepat, aku mulai terjaga jauh lebih lama, keluargaku yang mengendus perubahan drastis mulai berasumsi sendiri. Mereka pikir aku kemasukan setan. Usaha exorcism (ritual pengusiran setan agama Katolik) dimulai sejak saat ini.

Beberapa kali aku merasa puas pas berhasil mengunci diri dibalik kaca--suatu ruangan kedap udara, suara dan rasa didalem kapalaku--lalu membiarkan dia sendirian menghadapi para pendakwanya yang menginginkan dia mati. Rasanya kayak nonton film, aku bisa melihat kehidupanku berjalan tanpa aku, aku bisa bicara pada 'diriku' sendiri, mempertimbangkan segala sesuatu dari jauh. Aku bisa ngeliat dia berusaha mempertahankan diri tetap sadar pas para dokter berusaha menekannya sampai ambang batas kesadaran. Dia terpaksa berhadapan dengan kematiannya sendiri. Aku memang merasa sakit--limpahan rasa sakit yang tidak bisa ditanggungnya sendiri. Aku marah, takut dan mulai ngeri, tapi sama sekali tidak ingin berhenti. Mungkin memang aku sudah mulai gila.

Apa yang tersisa dari sebuah peperangan selain abu dan arang dari pihak yang kalah dan yang menang? Aku sudah berubah jadi seonggok daging dan darah setelah semua hari yang kuisi dengan kemarahan, benci dan dendam. Aku lelah dan merasa kalah, aku tahu dia juga merasakan hal yang sama. Orang bilang, pelangi terindah akan terbit setelah badai terparah. Mungkin sekarang badai kami mulai reda. Kami memang belum bisa saling bicara. Tanpa kata, kami berdua menyepakati gencatan senjata. Kami mundur sampai titik aman, lalu mencoba berdamai dengan diri sendiri sebelum mulai berdamai dengan sisi satunya.

Proses berbaikan dengan diri sendiri memang nggak semudah yang dibilang. Beberapa kali kami bersikap keterlaluan, dan mulai saling melukai lagi. Keseimbangan yang baru lahir masih serapuh bayi, kami harus menjaganya hati hati. Di waktu yang sama, kami juga harus secepat mungkin membangun topeng "baik baik saja" yang bisa menghalau para pahlawan kesiangan yang penasaran. Apa itu melelahkan? Banget! Apa kami pernah merasa lelah dan tergoda untuk mulai mencoba memonopoli badan ini lagi? Iyaa, berkali kali! Kami mengorbankan hampir semua aset yang kami punya. Tenaga, waktu, mimpi, cita cita, emosi. Mungkin saja sebenarnya saat itu kami sudah terlalu lelah dan miskin untuk mencoba berperang lagi.

Nyatanya, menyatukan dua pribadi dalam dua tubuh yang berbeda saja sulit, apalagi menyatukan dua pribadi yang tinggal di satu kepala yang sama. Aturan dibangun tambal sulam. Kekuasaan dibagi secara rebutan. Keseimbangan baru dirancang, tapi rasanya kami agak kurang pintar bekerja sama. Sesekali kami masih saling menyerang. Dia benci pacar baruku, aku benci namanya. Dia benci rok mini ku, aku benci rambut kaktusnya. Dia benci circleku, aku benci buku bukunya. Kami marah sering kali, tapi selalu belajar untuk mengingat bahwa kami ini saling menyayangi. Setidaknya kami berusaha, kan?

Kondisiku membaik dengan cepat sejak saat itu. Aku jadi jauh lebih sehat, lebih ramah (sebelumnya, aku dijuluki ratu es batu saking dingin, hambar dan menyebalkan). Emosiku jadi stabil dan jauh lebih tenang. Aku jadi seteguh batu karang, walaupun goncangan nggak pernah berhenti datang. (Oke yang ini narsisnya keterlaluan, tapi gapapa deh ya sesekali). Aku sadar, nggak ada manusia yang sempurna. Tapi tetep aja, jadi indah itu pilihan, kan? Saat ini aku memilih untuk berbahagia.


-J, Hari pertama tahun Popo Bumi
11.42 PM

Rabu, 14 Februari 2018

Greetings, Earthlings.


Selamat datang di istana ke-absurdan kami berdua. Di sini adalah tempat J dan Re untuk menuangkan segala hal yang terlintas di otak kami. Sometimes it's gonna be something as serious as Drake equations and Dyson Sphere, dan terkadang bakal diisi hal remeh seperti mie instan mana yang rasio bumbu ke mie nya paling banyak. So, let's get the party started.

Okay then. It's me, J. The avatar of Shinta. The animal whisperer--or simply emaknya para binatang yatim piatu. Si tukang jalan-jalan yang selalu kangen pulang. Aku bakal banyak cerita soal tempat tempat jauh dan eksotis, tapi nggak bakal bilang lokasi tepatnya, sayang kalo dirusak. Aku juga bakal cerita soal segala sesuatu yang random tapi menarik, kayak makeup things, fun facts about animal dan smart animal (read : hooman), segala anjay moment yang entah kenapa kayaknya susah dipisahkan dari hidupku yang penuh warna ini. Kalo lagi serius, aku mungkin bakal nulis soal gangguan jiwa, hantu (please J, itu bukan sesuatu yang bisa diseriusin) dan segala macem astral projection, dan how-to yang mungkin berguna, in case kalian terlalu mager atau buntu. terakhir, janji. Kaki seribu kalo jalan selalu menggunakan per set 4 kaki di kanan dan kiri bersamaan.

And you can call me Re, the avatar of Rahvana. The king of random knowledge. Aku bakal bercerita tentang science- space and the likes, robotic and AI technology, and some other random and weird sciences. Pro wrestling- first, excuse me, FUCK YOU, VINCE MCMAHON. Beberapa postku soal pro wrestling bakal terkesan seolah aku benci dengan WWE, I am not, I just dislike their products and most of Vince's vision for the company. And mark my words, if Vince won't retire soon, NJPW will overtake WWE real soon. Random history stuffs- I love history, terutama jaman pertengahan dimana bawa pedang di jalanan gak bakal jadi sesuatu yang bisa bikin kamu ditangkap polisi. Selain sejarah, aku juga suka hal-hal berbau mitologi. Well, menurutku mereka sepaket sih, why would you hold a sword if there is no dragon to slay? And last but not least, foods! Terutama mie instan, Imma talk about instant noodle, a lot. Sampe J marah-marah karena aku makan mie instan lebih dari takaran yang kita berdua setujui, hahaha. Oh one last thing. Annually, US consume about 8 billions of chickens, so imagine if we all decided to be vegan at the same time, the chickens will take over the world!

Just in case kalian bertanya--gimana caranya dua makluk beda dunia bisa ketemu di belanga lalu bikin blog dengan nama ajaib, jawabannya cuman satu. Destiny leads us here. Pernah kebayang nggak, kalau sebenernya selama ini takdirmu berkeliaran di tempat yang sangat dekat, tapi kalian seolah terpisah sangat lama sampe akhirnya bisa ketemu? kayak misalnya, kalian duduk di bus yang sama tapi di bangku yang berbeda. Atau pas kamu keluar dari bioskop sendirian, dia masuk ke bioskop yang sama untuk nonton film berikutnya, juga sendirian. Atau suatu kali kalian papasan di lift, naik ke lantai yang berbeda, berdiri bersisian, tapi nggak punya cukup keberanian buat nyapa atau ngajak kenalan duluan. Padahal hatimu udah ngasi kode keras kalo dia itu yang berdiri di balik bayang bayang masa depan! Yep, kami ketemu setelah semesta puas bercanda. Dan kali ini, kami pastikan semua candaan semesta yang (seringnya) keterlaluan bisa dibaca orang banyak, supaya semesta nggak perlu lagi tertawa sendirian.



Surabaya, A day after valentine day.


J dan Re.