Rabu, 30 Mei 2018

#StayStrongSemesta

Hampir 2 pekan yang lalu, berita kurang baik datang dari Surabaya. Di hari minggu yang cerah seria, dikala umat Katolik dan Kristen sedang khusyuk menjalankan ibadah, 3 titik gereja di Surabaya diledakkan oleh sekeluarga di waktu yang hampir bersamaan. Banyak spekulasi dimunculkan tentang pelaku. Tentang keluarganya yang melakukan bom bunuh diri sama-sama, Bapak, Ibu dan 4 anak-anaknya. Banyak pihak mengecam, menyayangkan, dan ada pula sedikit yang memberikan dukungan pada pelaku, sambil bilang kalo tragedi bom Surabaya itu hoax dan pengalihan isu [entah yang ini otaknya dimana].

Sejak pagi itu, petugas kepolisian, TNI, gegana, Brimob dan teman teman relawan Islam NU, Gusdurian, bahkan bonek bahu membahu menjaga titik titik rawan, khususnya tempat ibadah dan kantor polisi, mall dan titik keramaian, apalagi waktu serangan berdekatan dengan momen puasa dan lebaran. Katanya, teroris masuk ke Surabaya dan sekitarnya bebarengan sama momen mudik pra-puasa, alesan nyekar makam keluarga dan orang tua, terus--nggak pake ancang ancang--langsung meledakkan diri di sana sini.

Selain itu, muncul juga gerakan memeluk perempuan bercadar dan laki laki berjenggot panjang dan celana cingkrang (yang ini nggak tau deh adanya dimana, Jey cuman liat di internet) demi menangkal stigma bahwa perempuan dan laki laki dengan gaya busana semacam itu adalah teroris. Pro-Kontra timbul seketika. Katanya kalo bukan muhrim bersentuhan haram .. kok itu mau dipeluk? Jadi demi nama baik, aturan Tuhan digadaikan? Hoo, giliran yang ngebom pake pakaian gitu bilangnya jangan salahkan pakaiannya, salahkan orangnya. Giliran korban perkosaan yang disalahin bajunya duluan. Huu standar ganda .. Ada lagi yang bilang kalo teroris liat orangnya jangan agamanya, kalo gubernur liat agamanya yak, jangan track recordnya .. Yhaa, enaknya kita nonton aja di pinggiran biar seru~

Seperti layaknya tragedi tragedi yang sudah lalu, lambat laun Surabaya akan kembali ke ritmenya semula. Perekonomian akan membaik lagi, warga sudah nggak takut beraktifitas lagi, jalan raya bakal macet lagi, anak anak sekolah nggak perlu diawasi dari sejak turun kendaraan pengantar sampai masuk gerbang sekolah. Tempat umum nggak akan meriksain tas, baju dan bawaan pengunjung lagi .. Untuk para warga yang nggak terdampak langsung, mungkin ada sedikit banyak ungkapan dukacita dan belasungkawa untuk keluarga korban yang mugkin tidak dikenalnya. Ada juga perasaan waswas, takut, curiga, atau penasaran tentang cerita sampingan dibalik tragedi yang terjadi. Tapi, ya hanya itu. Cerita yang biasanya disebar lewat grup whatsapp atau facebook itu nantinya bakal ngendon jadi hiasan berdebu, pajangan remeh tentang cerita jaman dulu.

Gimana kabar korban dan keluarga yang ditinggalkan? Mereka mungkin akan terdampak lebih lama. Kehilangan orang yang dikasihi, ayah, ibu, suami, istri, anak, tulang punggung keluarga, itu nggak pernah jadi urusan mudah. Apalagi yang meninggalnya tiba-tiba, karena teror bom pula. Sekarang sih, rumanya masih rame dikunjungi sanak saudara, rekan, kenalan, awak media, orang orang penasaran .. sedihnya mungkin akan sedikit berkurang karena mereka belom ditinggal sendirian. Nanti kalo semua tamu sudah pulang, pesta selametan sudah usai, kehidupan mau nggak mau harus bergulir lagi, rasa sakitnya bakal muncul lagi, dan itu bahkan lebih menyakitkan dari yang datang pertama kali.

Gimana kabar pelaku yang katanya anaknya masih hidup satu? Gimana rasanya hidup sebagai yatim piatu dari orang tua yang dicap teroris, kehilangan semua saudara, orang tua, bahkan diputus hubungan saudara secara sepihak dari keluarga besar karena 'anaknya teroris', 'sudah didoktrin untuk bunuh bunuhin orang yang nggak sama kayak dia', 'aib', 'malu sama tetangga, sama kenalan, rekanan, sama dunia~' Anak yang sakit dan patah hati ini dengan kejam ditinggal sendirian di muka bumi yang hanya menyisakan sedikit simpati.

Itu tragedi, dan itu terjadi berkali kali kali kali sejak jaman bumi tercipta dan manusia mengenal dosa dan Tuhan. Siapa sih mereka, kamu, aku, kita, kok kayaknya udah yang paling tahu soal surga. Siapa sih manusia manusia ini, kok kayaknya enak banget jadi kaki tangan tuhan yang ironic dan comic, tuhan yang menciptakan perbedaan, tapi juga yang menghalalkan membunuh orang yang berbeda dari satu kaum tertentu. Lah emang tuhan hak eksklusifnya dia doank? Siapa sih manusia ini, kok kayaknya paling suci, paling adil, paling sempurna dan nggak punya dosa, jadi nggak takut mati bunuh diri demi ilusi 72 bidadari yang cantik rupawan dan selalu perawan.

Inilah sumber besar dari tragedi, ilusi yang bergulir tanpa berhenti. Interpretasi absurd tentang tuhan menurut otak dangkal manusia haus kekuasaan. Merasa diri paling semuanya, paling benar paling suci paling sempurna. Nggak ada yang salah dari apapun pikiran perkataan perbuatannya. Bahkan memuaskan hawa nafsu yang nggak jauh dari selangkangan dengan cara apapun itu halal, asal kaum mereka saja pelakunya.

Inilah sumber besar dari tragedi, ketika manusia tidak merasa ada yang salah, sehingga tidak ada apapun yang bisa diperbaiki.



Jey, 24.5.18
Ruang Jane Austen
11.25

Jumat, 18 Mei 2018

Sebuah Curahan Hati dan Jiwa~

Alkisah di suatu malam penuh kegabutan jiwa~
*le Jey ngganti foto profil judes nan formalnya dengan foto ambigu yang memancing imajinasi liar nakal dan panasssh*

10 menit kemudian ..
*le Jey diserbu sama pejantan buangan yang euforia dan berbahagia*
polanya nggak asing, kan? Korbannya nggak hanya Jey kan? Para korban sebel kan? Para pelaku nggak dapet apa apa kan selain hujatan dan ungkapan kejijikan? Atau .. jangan jangan itu membuat mereka makin senang? Well ..

Aku nggak pernah tau jelas kapan mulainya, yang jelas sekarang sekarang ini [udah lama sih, tapi lagi booming lagi-nya ya baru belakangan ini aja] dua kubu pendukung "Perempuan harus tau caranya melindungi diri dengan membatasi langkah dan kebebasan" vs "Laki laki harus menjaga pandangan otak dan selangkangan" lagi panas panasnya adu argumentasi. Jey dukung yang mana? Jey menjunjung tinggi dan menghormati hak asasi dan kebebasan pendapat manusia, alias Jey dukung diri sendiri. Ahahaha ..

Baiklah, mari kita lihat dari sisi Jey~
Buat Jey, konten apapun yang keluar dari akun pribadi maupun akun kerjaannya adalah konten mateng, yang udah dipikir dampak terburuk dan tujuan terbaiknya, yang udah disensor sesuai dengan standar kelayakan dan kewajaran pribadi Jey sebagai si empunya akun. Ya namanya standar ukuran pribadi, pasti variannya bisa beda satu sama yang lain donk ya. Jadi, nggak perlu repot repot menguliahi Jey soal "kelayakan dan kewajaran" kalo gamau diuntal balik. Jey juga udah siap andaikan diserbu sama jantan buangan mabok ideologi diluaran. Toh babang siluman Badak selalu siap di garda depan ..

pelaku #1 Jantan sok pinter dan berwawasan luas, padahal luasnya cuman seluas mangkok kobokan
Aku minta maaf, bukan apa apa cuman mau mengingatkan, itu foto profilnya jangan seperti itu daripada menimbulkan kesan buruk, seolah kamu lagi telanjang [Jey : mau telanjang juga urusanku kan, toh fotonya cuman sampe bawah leher sedikit. bilang aja lu ngacengan. dih~]
eh, beberapa menit kemudian donk si jantan ngaku kalo foto Jey bikin dia terangsang dan pengen pdkt, ngerasa nyaman dan tertarik karena Jey sangat menggairahkan. Padahal sebelomnya dia tau Jey sudah punya pasangan, bahkan ngajak ketemu dan ditemuin berdua sama pacar dianya langsung jiper dengan sejuta alasan yang nggak masuk akal dan bikin ngakak sampe laper. Dude, please. Ngaceng karena suatu konten dan meminta maaf pada si empunya konten karena udah ngaceng tidak membuatmu terlihat gentlemen sama sekali. Kamu tetap menjijikkan, tanya deh sama cewe manapun diluaran~

pelaku #2 Jantan mabok agama yang rela menggadaikan agamanya demi dapet satu kesempatan bangun seranjang. Tanpa ba bi bu, si jantan langsung ngajak tidur dengan alasan "ini namanya kebebasan, aku bebas mengajak dan kamu bebas memilih. Toh udah sama sama dewasa dan bisa bertanggung jawab. Daripada aku memperkosa cewek yang nggak mau diajak tidur yakan?" Duh bang, malu sama konten agama yang dikit dikit kamu share, sama image 'orang suci' yang mati matian kamu pertahankan, sama ayat2 kitab suci yang kamu kutip dan bangga banggakan.
Apa pembelaannya sodara? Oh, nggak ada manusia yang sempurna. Kamu nggak tahu masalahku, kamu nggak akan tahu. Aku udah dua tahun nggak pergi ibadah, ini kebebasanku yang baru. Sementara postingannya yang ga sampe dua pekan lalu menunjukkan diriya lagi berpose didepan rumah ibadah sambil nyengir kuda dengan caption penuh dusta. Oh, Tuhan dia dengan gampang dikalahin sama siluman yang bahkan belom telanjang ..


pelaku #3 Jantan sok artsy yang ngerasa udah paling bisaaa muasin perempuan. Lagaknyaaa udah kayak Don Juan. Sok sokan nyeni, bahas budaya segala macem ujung ujungnya ngajak diskusi dalam ruangan tertutup--hanya berdua. Bapak Ibunya Rahvana yang niatnya tulus suci aja bisa kejadian, gimana sama yang dari awal niatnya celamitan? Eh, aku punya sadurannya kitab kamasutra loh, yang edisi lama. Isinya lengkap banget, koleksi langka nih. Nggak boleh sering dibawa-bawa, soalnya udah rapuh kayak hatiku~ Kalo kamu mau baca, ya kudu ke kosanku aja ntar aku pinjemin. Giliran mau disamperin berdua sama siluman Badak, dianya ngamuk ngamuk katanya kitab ini gaboleh dipegang orang sembarangan. Nah lu kata siluman badak suka ngerusakin barang orang sembarangan? Ujung-ujungnya ketebak pemirsa, ngajak praktek barengan karena dia ngerasa bentuk badan Jey adalah bentuk sempurna yang diharapkan dari seorang perempuan. Dih, semua cewe aja lu kata sempurna demi dapet temen bobok gratisan. Taruhan, yang model begini Jey belom telanjang dia udah ejakulasi dua kali .__.

pelaku #4 Jantan reject, nggak punya apa apa yang penting ngeyel duluan~ yang ini nih yang paling menguras energi. Sering ngechat sexy hot ngajak ketemu ngajak ngopi [di kosan .__.]. Dijawab alus, ngelunjak. Dijawab kasar, mental. Enaknya dipotas buang ke sungai kali ya~
Jadi perempuan memang melelahkan. Salah bener tetep aja salah, apalagi kalo urusan selangkangan. Ramah dibilang ngasi celah, PHP, murahan. Giliran sombong dibilang sok jual mahal, nggak laku, jelek banyak tingkah~ Padahal menurut standar pribadi Jey, apa yang Jey lakukan hanya 'bersikap ramah, menjaga manner walopun lagi gak ada satpam'.

Ternyata, para pejantan homo sapiens kebanyakan makin kritis aja, selangkangan diumbar menebar keresahan. Udah gitu, suka nyalahin kaum perempuan. Mungkin sebaiknya Jey kemana mana bawa belati sama jarum beracun biar kayak mbak mbak dari dunia persilatan. Gini gini Jey juga jagoan silat .. lidah. Hahaha ..

Sekian.


Di balkon lantai 2,
Jey dan siluman Badak asli Kakanda.

Rabu, 02 Mei 2018

untitled-1

Hello, stranger~
Sorry for being inactive for a while. Lagi sibuk bersenang senang sih [I can hear you ciyeee~ r.n., I swear] hahaha ..

Jadi, sekarang ini aku nggak tahu mau nulis soal apa, lagi stuck banget sampe rasanya pengen tantrum [bayangin aja empath tantrum gimana jadinya], dan yea, bosan sekali. aku yakin, siapapun pasti pernah merasakan kebosanan yang sama. Kayak .. melayang di ruangan hampa udara, dimana semua yang kamu lakukan tertelan kehampaan dan semua yang kamu lemparkan nggak kembali padamu--termasuk boomerang. Nyebelin, yes?

So, what are you up to? Aku lagi belajar sesuatu yang baru recently, and Das Ist Deutsch. Yep, aku belajar Bahasa Jerman. Jaga jaga kalo Indonesia 2019 terpecah kayak Kediri dan Majapahit, bisa ngungsi ke Jerman cari suaka. Asal jangan suaka margasatwa aja~

Sebenernya sudah lama aku pengen belajar bahasa asing selain bahasa Inggris. Kan orang bilang kalo pengen mempelajari budayanya, pelajari dulu bahasanya. Yep, itu yang kulakukan. Kenapa kok nggak mempelajari bahasa negeri sendiri? Toh kekayaan budaya di Indonesia nggak kurang kurang, kok maruk banget mo belajar bahasa asing? itu pertanyaan pertama yang muncul dari para komenter tentang keputusanku belajar bahasa. Hoo tenang saja, satu bahasa asing, satu bahasa daerah. Belajar bahasa Inggris, belajar bahasa Jawa. Belajar bahasa Jeman, belajar bahasa Sanskrit. So, apakah para komenter sudah mempelajari bahasa lain hari ini? Uhuyy ..

Selain dinyinyirin dibilang sok internasional (padahal bahasa Jerman bukan bahasa Internasional loh..), para komenter juga nyinyirin umur (teteuuup~), kalo umur segini udah ketuaan buat belajar sesuatu yang baru lah, gak akan maksimal pengetahuannya nanti lah, nggak guna juga bisa bahasa macem macem lah .. yhaa, kurang apdet dia. Kalopun sekarang bahasa yang ku kuasai kelihatannya nggak bikin aku jadi tajir melintir kintir banjir kiwir kiwir, setidaknya itu investasi bagus donk buat membesarkan anak anakku nanti, apalagi sebagai (calon) mommay yang keren dan bertanggung jawab, aku pengen bisa punya waktu cukup buat ngasi anakku pendidikan dirumah a.k.a home schooling. Gapapa terlambat di mommaynya, bakal jadi sangat cepat juga nanti di anaknya. pendidikan terbaik yang bisa didapat anak adala teladan dari rumah, kan?

Yes, begono lah. jadi mari kita akhiri saja curhatan panjang lebar tanpa ujung pangkal kita ini. untuk membuatnya lebih berfaedah, setidaknya buat mereka yang menyempatkan baca, mari kita ciptakan satu atau dua pesan moral. Pertama, nggak ada yang namanya terlambat untuk mempelajari sesuatu yang baru. Kedua, usia tidak membatasimu untuk jadi se keren yang selalu kamu inginkan sejak dulu.

Ketiga, I am expecting the babieeees. Yeayyy~

Okay then, terimakasih sudah menyempatkan diri membaca postingan kejar setoran Jey kali ini. Sampai jumpa di postingan berikutnya, semoga semua kebuntuan ini sudah menemui akhirnya. Namaste~


Jey,
3-5-18
Rumah Bahasa bagian Perpustakaan.