Hampir 2 pekan yang lalu, berita kurang baik datang dari Surabaya. Di hari minggu yang cerah seria, dikala umat Katolik dan Kristen sedang khusyuk menjalankan ibadah, 3 titik gereja di Surabaya diledakkan oleh sekeluarga di waktu yang hampir bersamaan. Banyak spekulasi dimunculkan tentang pelaku. Tentang keluarganya yang melakukan bom bunuh diri sama-sama, Bapak, Ibu dan 4 anak-anaknya. Banyak pihak mengecam, menyayangkan, dan ada pula sedikit yang memberikan dukungan pada pelaku, sambil bilang kalo tragedi bom Surabaya itu hoax dan pengalihan isu [entah yang ini otaknya dimana].
Sejak pagi itu, petugas kepolisian, TNI, gegana, Brimob dan teman teman relawan Islam NU, Gusdurian, bahkan bonek bahu membahu menjaga titik titik rawan, khususnya tempat ibadah dan kantor polisi, mall dan titik keramaian, apalagi waktu serangan berdekatan dengan momen puasa dan lebaran. Katanya, teroris masuk ke Surabaya dan sekitarnya bebarengan sama momen mudik pra-puasa, alesan nyekar makam keluarga dan orang tua, terus--nggak pake ancang ancang--langsung meledakkan diri di sana sini.
Selain itu, muncul juga gerakan memeluk perempuan bercadar dan laki laki berjenggot panjang dan celana cingkrang (yang ini nggak tau deh adanya dimana, Jey cuman liat di internet) demi menangkal stigma bahwa perempuan dan laki laki dengan gaya busana semacam itu adalah teroris. Pro-Kontra timbul seketika. Katanya kalo bukan muhrim bersentuhan haram .. kok itu mau dipeluk? Jadi demi nama baik, aturan Tuhan digadaikan? Hoo, giliran yang ngebom pake pakaian gitu bilangnya jangan salahkan pakaiannya, salahkan orangnya. Giliran korban perkosaan yang disalahin bajunya duluan. Huu standar ganda .. Ada lagi yang bilang kalo teroris liat orangnya jangan agamanya, kalo gubernur liat agamanya yak, jangan track recordnya .. Yhaa, enaknya kita nonton aja di pinggiran biar seru~
Seperti layaknya tragedi tragedi yang sudah lalu, lambat laun Surabaya akan kembali ke ritmenya semula. Perekonomian akan membaik lagi, warga sudah nggak takut beraktifitas lagi, jalan raya bakal macet lagi, anak anak sekolah nggak perlu diawasi dari sejak turun kendaraan pengantar sampai masuk gerbang sekolah. Tempat umum nggak akan meriksain tas, baju dan bawaan pengunjung lagi .. Untuk para warga yang nggak terdampak langsung, mungkin ada sedikit banyak ungkapan dukacita dan belasungkawa untuk keluarga korban yang mugkin tidak dikenalnya. Ada juga perasaan waswas, takut, curiga, atau penasaran tentang cerita sampingan dibalik tragedi yang terjadi. Tapi, ya hanya itu. Cerita yang biasanya disebar lewat grup whatsapp atau facebook itu nantinya bakal ngendon jadi hiasan berdebu, pajangan remeh tentang cerita jaman dulu.
Gimana kabar korban dan keluarga yang ditinggalkan? Mereka mungkin akan terdampak lebih lama. Kehilangan orang yang dikasihi, ayah, ibu, suami, istri, anak, tulang punggung keluarga, itu nggak pernah jadi urusan mudah. Apalagi yang meninggalnya tiba-tiba, karena teror bom pula. Sekarang sih, rumanya masih rame dikunjungi sanak saudara, rekan, kenalan, awak media, orang orang penasaran .. sedihnya mungkin akan sedikit berkurang karena mereka belom ditinggal sendirian. Nanti kalo semua tamu sudah pulang, pesta selametan sudah usai, kehidupan mau nggak mau harus bergulir lagi, rasa sakitnya bakal muncul lagi, dan itu bahkan lebih menyakitkan dari yang datang pertama kali.
Gimana kabar pelaku yang katanya anaknya masih hidup satu? Gimana rasanya hidup sebagai yatim piatu dari orang tua yang dicap teroris, kehilangan semua saudara, orang tua, bahkan diputus hubungan saudara secara sepihak dari keluarga besar karena 'anaknya teroris', 'sudah didoktrin untuk bunuh bunuhin orang yang nggak sama kayak dia', 'aib', 'malu sama tetangga, sama kenalan, rekanan, sama dunia~' Anak yang sakit dan patah hati ini dengan kejam ditinggal sendirian di muka bumi yang hanya menyisakan sedikit simpati.
Itu tragedi, dan itu terjadi berkali kali kali kali sejak jaman bumi tercipta dan manusia mengenal dosa dan Tuhan. Siapa sih mereka, kamu, aku, kita, kok kayaknya udah yang paling tahu soal surga. Siapa sih manusia manusia ini, kok kayaknya enak banget jadi kaki tangan tuhan yang ironic dan comic, tuhan yang menciptakan perbedaan, tapi juga yang menghalalkan membunuh orang yang berbeda dari satu kaum tertentu. Lah emang tuhan hak eksklusifnya dia doank? Siapa sih manusia ini, kok kayaknya paling suci, paling adil, paling sempurna dan nggak punya dosa, jadi nggak takut mati bunuh diri demi ilusi 72 bidadari yang cantik rupawan dan selalu perawan.
Inilah sumber besar dari tragedi, ilusi yang bergulir tanpa berhenti. Interpretasi absurd tentang tuhan menurut otak dangkal manusia haus kekuasaan. Merasa diri paling semuanya, paling benar paling suci paling sempurna. Nggak ada yang salah dari apapun pikiran perkataan perbuatannya. Bahkan memuaskan hawa nafsu yang nggak jauh dari selangkangan dengan cara apapun itu halal, asal kaum mereka saja pelakunya.
Inilah sumber besar dari tragedi, ketika manusia tidak merasa ada yang salah, sehingga tidak ada apapun yang bisa diperbaiki.
Jey, 24.5.18
Ruang Jane Austen
11.25
Tidak ada komentar:
Posting Komentar