Kamis, 07 Juni 2018

Selepas Perdebatan Siang Itu

Kurasa, aku mencintaimu sekuat itu.
Sekuat daya hidup yang menolak mati begitu terburu.
Lebih kuat dari semua rasa marah, sedih, kecewa dan rasa sakit yang selalu datang mengiringi mereka.

Kamu tahu, bertengkar denganmu-besar atau kecil-selalu lebih melelahkan dari apapun yang pernah kulakukan sepanjang hidupku.
Aku sanggup menyetir, tertawa, berjalan kesana kemari, berfungsi seperti layaknya manusia waras dengan seluruh isi kepala terfokus pada layar 5,5" dan semua percakapan kita yang menyakitkan. Aku sudah menyempurnakan topengku demi menghindari radar penasaran orang orang di sekitarku. Mencegah mereka bertanya atau bicara lebih jauh dan menambah luka yang seharusnya tidak perlu ada.

Aku mencintaimu sekuat itu.
Sekuat mimpi yang menolak pergi saat senjaku jadi terlalu merah, atau dini hariku yang sunyi jatuh berdarah darah.
Air mataku tumpah ruah-sering kali tidak terkendali.
Aku tidak pernah tahu bahwa manusia bisa membenci dan mencinta sama kuatnya di satu waktu yang sama.

Aku benci waktu yang beku dan sunyi yang pekat diantara punggung kita yang berjarak setiap kali kita bertengkar-untuk hal kecil atau besar.
Aku benci kata kata yang menolak lahir dan lompatan pikiran yang mengalir liar menyongsong semua kemungkinan, memutar balik dan mengulang bagian yang kita benci sama sama.
Aku lelah, tauk.

Aku takut, permainan dadu semesta kali ini berlaku curang dan memaksa langkah kita berhenti disini.
Aku takut sendirian.
Lucu, karena sampai beberapa waktu sebelum kita berjumpa, aku selalu sendiri.
Entah, mungkin aku sudah terlalu nyaman bersamamu, walaupun waktu masih saja bergulir terburu.

Lalu, untuk tiba tiba yang terasa lama, kita akan bicara dengan nada biasa.
Tentang rasa sakit dan kecewa.
Tentang memaafkan dan menerima.
Tentang kejujuran dan bahagia.
Aku-entah denganmu-lebih suka menumpahkan marahku lewat butiran air mata yang mengalir satu satu.
Air mata bersayap yang tidak lelah bercerita.

Aku selalu menemukan cinta pada caramu mendekapku dalam peluk, menenangkan nafasku yang memburu dengan leluconmu yang seringnya tidak terlalu lucu setelah semua perdebatan kita siang itu.
Setelah itu, kita akan mulai bicara tentang apa saja.
Kita akan makan bersama, lalu mengakhiri ritual kita dengan jajan es cao di tepi jalan.
Jemari kita kembali saling menggenggam.
Mata kita saling menatap teduh.
Sekali lagi, seuntai senyum tersungging di wajah masing masing.
Kita memang ditakdirkan untuk terus bersama.

Jadi, mau denger pertanyaan random nggak?

19.20
Di balik layar,
Mommay.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar