When I was a kid, I used to fall in love again and again at every fairytales I see. Ngebayangin serunya jadi putri dengan kemampuan spesial [tapi nggak bisa nolong dirinya sendiri] yang menunggu pangeran tampan kaya single romantis ksatria-dan yang paling penting cinta mati sama si putri-berkuda datang menyelamatkan dia dari kondisi buruk yang terjadi. Dan mereka hidup bahagia selamanya. Awww, so sweet~
Makin besar, aku mulai iri pada diskriminasi fisik yang kentara di sekelilingku. Orang orang lebih menghargai mereka yang memenuhi kriteria cantik a.la media. Putih, sipit, rambut lurus panjang, badan langsing tinggal tulang, sikap manja manja gemesin, selalu bikin orang tergila gila. Aku mulai mempertanyakan tentang nilai perempuan. Ah, masa dunia segitu kejamnya pada orang orang yang nggak lolos seleksi cantik a.la media? Berarti Tuhan nggak adil donk sama ciptaanNya. Kenapa manusia diciptakan berbeda, hanya supaya satu bisa lebih unggul dari yang lainnya? Hoo, aku belajar menyimpan benci.
Sejak saat itu, aku yang jelas nggak lolos standar cantik a.la media bersumpah pada diri sendiri, aku akan buktikan bahwa yang nggak cantik sekalipun bisa menang melawan dunia. Aku juga pasti bahagia, dengan jalan yang kuperjuangkan sendiri. Kalau hidup memang tidak adil, akan kutunjukkan padanya bahwa sikapnya tidak akan melemahkanku. Aku lebih kuat dari yang dia kira. Naif ya~
Makin besar, aku makin sadar bahwa modal cantik saja kadang tidak bisa membuatmu dengan mudah mendapatkan apa yang kamu inginkan. Hidup memang tidak adil, tapi ternyata dia melakukannya pada semua orang. Cukup adil menurutku. Nasib bisa berubah, kata seorang teman. Kamu hanya perlu terus berjuang demi impian dan keyakinan yang kamu pegang. Ya, selama ini aku menggenggam fatamorgana. Bahwa takdir bisa berubah, bergantung bagaimana kita mengukirnya.
Maka aku belajar. Membiasakan diri melakukan segala sesuatunya sendiri. Mengurus diriku sendiri, menjalani kesenanganku sendiri, membangun kenyamananku sendiri, menjadi ratu untuk diriku sendiri. Jika pangeranku benar benar akan datang suatu saat nanti, dia akan menemui seorang puteri yang sanggup menjaga dirinya sendiri. Puteri yang tangguh dan mandiri, bukan puteri yang (sebenarnya berbakat, tapi) tidak bisa mengendalikan hidupnya sendiri. Aku ingin dipandang sejajar-sama kuat, sama pintar, sama tangguh-bukannya sebagai piala yang dimenangkan dengan berbagai cara.
Aku ingin-suatu hari nanti-pangeranku akan dengan bangga menyebutku pasangan sempurna untuknya. Bukan puteri yang diselamatkan, bukan hanya perempuan yang hanya menjadi beban. Aku ingin pangeranku tahu bahwa menjadi tidak sempurna itu manusiawi. Karena kita masih manusia. Dan perjalanan menuju sempurna itu hanya fatamorgana. Keyakinan yang membuat kita terus melangkah.
Meski susah.
Walau kadang terasa lelah.
Dan aku akan terus berjalan.
Walaupun pelan.
Sampai waktu hilang tak tak bertuan.
Sub, 12.6.18
17.35
Tidak ada komentar:
Posting Komentar