Sabtu, 14 April 2018

Rahvana' Soliloquy

Oh, Dewata, ku tagih kalian atas amarahku.
Atas amarah yang kalian tanam bahkan sebelum aku berwujud sperma Wisrama.
Atas kehidupan yang kalian manipulasi dengan landasan apa yang menurut kalian benar.
Padahal sejatinya kalian hanya mahluk mahluk pengecut yang bahkan enggan mengotori nyawa tangan kalian.

Ah, Dewata, ku tagih kalian atas kesedihanku.
Atas hutang kebahagiaan yang kalian tinggal dan enggan kalian lunasi.
Atas semua janji bohong dan kosong yang hanya kalian ucapkan untuk menjaga wibawa kalian.

Duhai, Semesta, ku tagih kau atas cinta yang kau tanamkan.
Cinta yang kau tanam dengan dalam, lalu kau pupuk sampai aku kuwalahan.
Cinta yang seharusnya sebuah pohon menjadi rangkaian hutan.
Ku tagih kau atas amarah piluku.
Ku tagih kau atas cintaku yang menyedihkan.

Ku tagih semuanya, lunas.

Sabtu, 07 April 2018

... Jika

Andai saja kita tidak terlampau congkak memandang dunia ..
Kita akan tahu, semesta menyapa lewat matahari yang kembali terbit pagi ini
Langit menggoda lewat angin yang menerbangkan anak anak rambut kekasihmu, mesra
Bumi memelihara lewat hujan yang jatuh tanpa terpaksa.

Andai kita menekan sedikit saja ego didalam jiwa
Kita akan temui Tuhan yang bicara melalui kopi pahit tanpa gula
Menegur dengan nasi dingin dan sepotong lauk di tanggal tua
Menyeru lewat gaji bulanan yang terlambat datang
... juga pengeluaran ekstra yang muncul tiba tiba.

Andai kita menyimpan sedikit saja serpih cinta ..
Tidak seorang pun akan ditinggalkan sendirian
Tidak ada yang mati kelaparan, sakit berkepanjangan, atau tunduk tersisihkan.

Andai kita punya sejumput saja rasa peka ..
Kita pasti tahu, Tuhan berdiri sedekat nadi
Bukan hanya di tempat suci--atau bahkan berdiam didalam Surga.

Telat sehari,
Dengan Rahvana berbaring di pangkuan.

Rabu, 04 April 2018

What if Depression is My Superpower?

It is an hour and a half past midnite, my flu is getting worse. My mood hit another low point half an hour ago. Shit, how did I become this weak? But thanks for Minoru Suzuki's NJPW theme song, Kaze ni Nare, I am back to my normal mood. Wait, let me change the song a bit, I dont want to have a nightmare about him.

Like I said last week, I channel my overflowing emotion to my stories. And not just angers. Sadness, pain, fears, lust, despairs. The funny thing is, I just realized that without all of those emotions, I am a shit writer. I just finished two of my new stories in this thirty minutes of depression, and I think both turned out quite decent.

So, I am thinking, what if depression is my superpower? Well that's kind of messed up don't you think? Maybe I am just using writing as some sort of anesthesia or something, to suppress my own darkness. Or maybe it just want me to acknowledge its existence. I don't know.

But the point is, maybe from now on, I have to embrace it. Wear it on my sleeves. Be proud of it. Use it as a fuel to achieve my foolish ambition, to be a writer.

Because, the only alternate point of view is, my brain already got so damaged that it needs to be beaten to be able to work.

Di atas kasur, di sebelah Jey.