Oh, Dewata, ku tagih kalian atas amarahku.
Atas amarah yang kalian tanam bahkan sebelum aku berwujud sperma Wisrama.
Atas kehidupan yang kalian manipulasi dengan landasan apa yang menurut kalian benar.
Padahal sejatinya kalian hanya mahluk mahluk pengecut yang bahkan enggan mengotori nyawa tangan kalian.
Ah, Dewata, ku tagih kalian atas kesedihanku.
Atas hutang kebahagiaan yang kalian tinggal dan enggan kalian lunasi.
Atas semua janji bohong dan kosong yang hanya kalian ucapkan untuk menjaga wibawa kalian.
Duhai, Semesta, ku tagih kau atas cinta yang kau tanamkan.
Cinta yang kau tanam dengan dalam, lalu kau pupuk sampai aku kuwalahan.
Cinta yang seharusnya sebuah pohon menjadi rangkaian hutan.
Ku tagih kau atas amarah piluku.
Ku tagih kau atas cintaku yang menyedihkan.
Ku tagih semuanya, lunas.