Jika menerima berarti melepaskan,
aku
bersedia membuka hatiku untuk menerimamu.
Aku melepaskanmu, seperti aku
menerimamu.
Begitu saja ..
Senja,
kabut turun seperti hantu.
Kabut yang
menutupi senjaku yang singkat,
namun entah mengapa membuat sore ini terasa
sempurna.
Kepalaku masih terasa melayang saat sesapan
kopi pertama sore ini menyentuh bibirku. Membuatnya hangat, seperti ciuman
pertama kita.
Ciuman yang biasa kita lakukan dulu.
Ciuman yang menyadarkanku
bahwa kamu memang pernah benar - benar ada
Dulu, di suatu masa.
Gerimis yang turun satu satu menarikku
kembali ke alam nyata,
membuatku mengerjap kuat seolah mengusik bayangmu
disana. Dalam kepalaku, kamu tersenyum padaku.
Senyummu manis dan memabukkan,
seperti anggur yang biasa kita nikmati berdua.
Senyummu selalu mempesona,
kataku dulu.
Dan memang begitulah adanya.
Aku kembali menutup mata,
berusaha
menghadirkan kembali momen - momen kebersamaan kita.
Jemari yang tak pernah
bertaut,
tatapan mata yang tak pernah beradu,
langkah kaki yang tak pernah searah,
jantung dan nafas yang berirama ..
Sayang sekali kamu pergi saat aku berhenti
berontak.
Aku mulai belajar menerima.
Aku pasrah kemana semesta ini menggiring
kita.
Aku mencintaimu.
Begitu saja.
Taukah kamu ?
Aku tidak pernah tahu bahwa menerima berarti
melepaskan.
Cinta yang benar-benar sempurna itu
memerdekakan, bukan mengekang.
Kebebasan itu kini milikmu.
Sayapmu yang
baru tumbuh seakan tak sabar mengepak mengecap dunia.
Aku hanya bisa mengiring kepergianmu dengan
doa ..
Dan dengan cinta.
Taukah kamu ?
Aku tahu kamu pasti tahu.
Jantung kita satu.
Hati kita satu.
Nafas kita satu.
Darah kita berpadu.
Aku mengantar kepergianmu
dengan semua itu.
Air mataku bergulir satu-satu.
Nyeri itu
timbul lagi di perut bawahku.
Nyeri yang menusuk dan menyisakan ngilu.
Kepalaku
makin ringan walaupun nafasku beku.
Pelan, kulepaskan nafas panjang.
Katamu, aku
pasti mampu.
Kamu kuat, karena aku pun begitu.
Kita satu,
kamu tahu ?
Ya, aku tahu.
Kamu sudah mengajariku satu hal
baru.
Menerima itu melepaskan. Akan selalu begitu.
Aku menapaki jalan penerimaanku padamu dengan
lidah kelu dan jantung beku.
Aku merelakanmu,
tepat sebelum gumpalan tanah
merah itu menimpa ujudmu yang bergelung tenteram dalam kendil tanah liat itu.
Aku melepaskan sejenak kesadaranku,
ingin sedikit lama lagi bersamamu.
Senja merah berkabut pekat,
Pada suatu waktu-
-Untuk kita,
yang belum sempat saling sapa.