Selasa, 27 November 2018

Ein Auf Wiedersehen


Jika menerima berarti melepaskan,
   aku bersedia membuka hatiku untuk menerimamu.
Aku melepaskanmu, seperti aku menerimamu.
Begitu saja ..

Senja,
   kabut turun seperti hantu.
Kabut yang menutupi senjaku yang singkat,
   namun entah mengapa membuat sore ini terasa sempurna.
Kepalaku masih terasa melayang saat sesapan kopi pertama sore ini menyentuh bibirku. Membuatnya hangat, seperti ciuman pertama kita.
Ciuman yang biasa kita lakukan dulu.
Ciuman yang menyadarkanku bahwa kamu memang pernah benar - benar ada
   Dulu, di suatu masa.

Gerimis yang turun satu satu menarikku kembali ke alam nyata,
   membuatku mengerjap kuat seolah mengusik bayangmu disana. Dalam kepalaku, kamu tersenyum padaku.
Senyummu manis dan memabukkan, seperti anggur yang biasa kita nikmati berdua.
Senyummu selalu mempesona, kataku dulu.
   Dan memang begitulah adanya.

Aku kembali menutup mata,
   berusaha menghadirkan kembali momen - momen kebersamaan kita.
Jemari yang tak pernah bertaut,
   tatapan mata yang tak pernah beradu,
   langkah kaki yang tak pernah searah,
   jantung dan nafas yang berirama ..
Sayang sekali kamu pergi saat aku berhenti berontak.
Aku mulai belajar menerima.
Aku pasrah kemana semesta ini menggiring kita.
Aku mencintaimu.
   Begitu saja.
Taukah kamu ?

Aku tidak pernah tahu bahwa menerima berarti melepaskan.
Cinta yang benar-benar sempurna itu memerdekakan, bukan mengekang.
Kebebasan itu kini milikmu.
Sayapmu yang baru tumbuh seakan tak sabar mengepak mengecap dunia.

Aku hanya bisa mengiring kepergianmu dengan doa ..
   Dan dengan cinta.
Taukah kamu ?

Aku tahu kamu pasti tahu.
Jantung kita satu.
Hati kita satu.
Nafas kita satu.
Darah kita berpadu.
   Aku mengantar kepergianmu dengan semua itu.

Air mataku bergulir satu-satu.
Nyeri itu timbul lagi di perut bawahku.
Nyeri yang menusuk dan menyisakan ngilu.
Kepalaku makin ringan walaupun nafasku beku.
Pelan, kulepaskan nafas panjang.
Katamu, aku pasti mampu.
Kamu kuat, karena aku pun begitu.
Kita satu,
   kamu tahu ?

Ya, aku tahu.
Kamu sudah mengajariku satu hal baru.
Menerima itu melepaskan. Akan selalu begitu.
   Aku menapaki jalan penerimaanku padamu dengan lidah kelu dan jantung beku.

Aku merelakanmu,
   tepat sebelum gumpalan tanah merah itu menimpa ujudmu yang bergelung tenteram dalam kendil tanah liat itu.
Aku melepaskan sejenak kesadaranku,
   ingin sedikit lama lagi bersamamu.




Senja merah berkabut pekat,
Pada suatu waktu-
-Untuk kita, yang belum sempat saling sapa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar