Selasa, 13 November 2018

Semacam Cerita Kependekan

2:41, dini hari hampir pagi. Aku terbangun karena hembusan angin yang menyusup dari jendela yang terbuka. Aku ketiduran lagi. Laptopku masih menyala diatas meja. Ada sedikit nyeri yang menyusup di ulu hati. Aku benci mengakui ini, tapi aku rindu kamu, yang sudah tidak lagi menjadi kita.

Aku memandangi fotomu yang terbingkai di meja kerja. Disana, disampingmu, ada aku yang tertawa bahagia. taukah kamu, senyuman itu sumber semangatku. Hei, apa kabarmu disana? Aku hampir mati tercekik pilu. Lelapkah tidurmu malam ini? indahkah mimpimu tuan puteri? Tolong, mimpikanlah aku sekali lagi ..

Aku berbaring dengan mata yang enggan terpejam lagi. Ada bulir bening yang jatuh satu satu. Ada marah, cemburu, iri. Ah, semoga dia menjagamu sebaik aku, tuan puteri .. Nyeri itu enggan pergi, bahkan ketika pagi sudah terbit lagi. Haruskah aku bangkit dan beranjak pergi? Sanggupkah aku memandangmu sekali lagi? Ada yang menggelegak didalam sini saat senyummu itu terbit buat dia yang sekarang berdiri disisimu hampir sepanjang hari.

Aku ini sahabatmu, dan akan selalu begitu, katamu setiap kali. aku ingin percaya, ingin sekali. tapi rasa rindu itu menolak pergi .. rindukah aku padamu, atau sebenarnya aku hanya belum rela melepas semua kenangan yang dulu kita miliki?

Aku ingat siang itu, kamu tanpa ragu menjabat tanganku. seketika aku jatuh kedalam pesonamu. bulu mata yang menaungi sepasang mata indah bercahaya. Senyum yang terkembang karena aku memicunya. Kamu menarikku masuk kedalam duniamu seperti cahaya menarik serangga. semestamu lah semestaku. dan semestaku lah semesta kita. ingatkah kamu?

Bersamamu, waktu seakan berhenti. Aku lupa rasanya berjalan sendiri, sesuatu yang sebenarnya sudah sering aku lalui. Bersamamu, seakan aku punya arti. Ada hati yang kujaga, ada senyum yang bersahaja. ada langkah yang selalu berirama, ada tawa yang menguarkan sukacita. Aku bahagia ..

Lalu, disanalah kita. Kamu sibuk bercerita soal hati yang penuh cinta. soal taman yang penuh bunga. soal jalan setapak yang berujung bahagia. Katamu, kesanalah kamu akan pergi. Aku tidak perlu menanti, karena disanalah bahagiamu, bukan disini.

Aku menggenggam tanganmu untuk yang terakhir kali, mendukungmu sepenuhnya, seperti yang seharusnya dilakukan seorang sahabat untuk kawan baiknya. Aku suka melihatmu tertawa. Aku tahu, ada hati yang menanggung kecewa. Hei, bukankah seharusnya aku bahagia? Kamu sudah menemukan dia, dan semesta mendukungmu untuk bisa bersamanya. Bukan masalah, kan?

Aku menatap punggungmu yang perlahan berlalu. Ada doa yang terhembus dalam setiap nafasku. Ada harapan yang terkembang setiap kali aku menatapmu. Kamu pasti akan bahagia. Kembalilah kapanpun kamu mau. Aku akan ada disini, kamu tahu kan kamu nggak akan pernah sendiri ..

Surabaya, 29 Desember 2015.
19:38 waktu bumi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar