2:41, dini hari hampir
pagi. Aku terbangun karena hembusan angin yang menyusup dari jendela yang
terbuka. Aku ketiduran lagi. Laptopku masih menyala diatas meja. Ada sedikit
nyeri yang menyusup di ulu hati. Aku benci mengakui ini, tapi aku rindu kamu, yang
sudah tidak lagi menjadi kita.
Aku memandangi fotomu
yang terbingkai di meja kerja. Disana, disampingmu, ada aku yang tertawa
bahagia. taukah kamu, senyuman itu sumber semangatku. Hei, apa kabarmu disana?
Aku hampir mati tercekik pilu. Lelapkah tidurmu malam ini? indahkah mimpimu
tuan puteri? Tolong, mimpikanlah aku sekali lagi ..
Aku berbaring dengan mata
yang enggan terpejam lagi. Ada bulir bening yang jatuh satu satu. Ada marah,
cemburu, iri. Ah, semoga dia menjagamu sebaik aku, tuan puteri .. Nyeri itu
enggan pergi, bahkan ketika pagi sudah terbit lagi. Haruskah aku bangkit dan
beranjak pergi? Sanggupkah aku memandangmu sekali lagi? Ada yang menggelegak
didalam sini saat senyummu itu terbit buat dia yang sekarang berdiri disisimu hampir
sepanjang hari.
Aku ini sahabatmu, dan
akan selalu begitu, katamu setiap kali. aku ingin percaya, ingin sekali. tapi
rasa rindu itu menolak pergi .. rindukah aku padamu, atau sebenarnya aku hanya
belum rela melepas semua kenangan yang dulu kita miliki?
Aku ingat siang itu, kamu
tanpa ragu menjabat tanganku. seketika aku jatuh kedalam pesonamu. bulu mata
yang menaungi sepasang mata indah bercahaya. Senyum yang terkembang karena aku
memicunya. Kamu menarikku masuk kedalam duniamu seperti cahaya menarik
serangga. semestamu lah semestaku. dan semestaku lah semesta kita. ingatkah
kamu?
Bersamamu, waktu seakan
berhenti. Aku lupa rasanya berjalan sendiri, sesuatu yang sebenarnya sudah
sering aku lalui. Bersamamu, seakan aku punya arti. Ada hati yang kujaga, ada
senyum yang bersahaja. ada langkah yang selalu berirama, ada tawa yang
menguarkan sukacita. Aku bahagia ..
Lalu, disanalah kita.
Kamu sibuk bercerita soal hati yang penuh cinta. soal taman yang penuh bunga.
soal jalan setapak yang berujung bahagia. Katamu, kesanalah kamu akan pergi.
Aku tidak perlu menanti, karena disanalah bahagiamu, bukan disini.
Aku menggenggam tanganmu
untuk yang terakhir kali, mendukungmu sepenuhnya, seperti yang seharusnya
dilakukan seorang sahabat untuk kawan baiknya. Aku suka melihatmu tertawa. Aku
tahu, ada hati yang menanggung kecewa. Hei, bukankah seharusnya aku bahagia?
Kamu sudah menemukan dia, dan semesta mendukungmu untuk bisa bersamanya. Bukan
masalah, kan?
Aku menatap punggungmu
yang perlahan berlalu. Ada doa yang terhembus dalam setiap nafasku. Ada harapan
yang terkembang setiap kali aku menatapmu. Kamu pasti akan bahagia. Kembalilah
kapanpun kamu mau. Aku akan ada disini, kamu tahu kan kamu nggak akan pernah
sendiri ..
Surabaya, 29 Desember
2015.
19:38 waktu bumi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar