maka,
aku pasrah kepada rindu yang meruah
.. entah untuk siapa
aku menyerah pada senyum yang merekah
masih entah, untuk siapa
lalu air mata bergulir satu satu
untukmu yang tidak pergi, tapi juga tidak tinggal
sudah habis jantungku kau lumuri cinta
tubuhku jadi ajangmu mencipta
jemariku jadi satu satunya suara,
karena bibirku kau sekap dalam kecup dan dekap
aku rindu.
cinta memang selalu memperburuk segala sesuatu.
tangisku pecah teredam serupa pertunjukan badai yang marah
dari puncak mercusuar berlentera.
aku marah, untuk luka yang memar berdarah.
kemudian selarik tawa mencuat tajam dari sana
untukmu, yang memilih hilang daripada pulang
terimakasih,
darimu aku tahu
bahwa semesta memang maha bercanda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar