Minggu, 17 Juni 2018

Pahlawan

Ternyata pahlawan ada dimana-mana. Mereka memang nggak selalu mengenakan topeng, jubah, atau memiliki kekuatan super, tapi mereka selalu punya hati yang lebih luas dari samudera, lengan yang hangat dan kuat, serta telinga yang siap menampung semuanya, lagi dan lagi.

Waktu Jey masih bocah, papa Jey yang sudah tenang di surga menciptakan cara untuk membantu Jey 'bicara'. Jey yang lebih banyak menatap sekitar dengan wajah datar boleh tidak bicara. Jey bisa menulis sebagai gantinya. Itulah kenapa, nggak ada angin nggak ada hujan, suatu sore yang cerah ceria Papa pulang bawa hadiah buku tulis dan bolpoin coklat untuk Jey yang belom masuk TK. Itu jadi semacam diary pertama untuk Jey. Cara Jey bicara dengan semestanya.

Jey lupa, siapa the lucky #1 yang dapat surat Jey yang pertama, tapi Jey ingat dulu Jey sering sekali menulis untuk superhero imajinernya. Bercerita tentang hari harinya, perasaan nggak nyaman dan bagaimana Jey harus berusaha keras menyesuaikan diri dengan keluarga besarnya. The suicidal Jey back then-menemukan ketenangannya dengan menulis. Nggak ada pertanyaan ragu atau memojokkan, nggak ada tatapan kasihan atau tawa yang ditahan, juga bentakan marah [atau takut?] dari orang dewasa yang cenderung membenci hal yang tidak mereka pahami. Eh tapi efeknya orang orang malah memperlakukan Jey terlalu hati hati, seperti mengurus boneka porselen yang mudah pecah gara gara sering curi baca diarynya Jey. Oke Jey itu nggak lucu-itu ngeri~

Kembali ke superhero. Jey inget, waktu kecil Jey pengen banget jadi superhero. Jey pengen nolong binatang terlantar dan tanaman yang nggak dirawat. Kucing liar, ikan yang tinggal di selokan, katak yang curi curi mandi di kubangan .. Somehow, Jey can hear them speak. [You can definitely say something is wrong with her brain. Go on, that is totally okay]. Pada beberapa hal, ada perasaan senasib yang timbul karena sama sama tidak dipahami dengan baik. Kemudian Jey dan semestanya menemukan cara saling menyayangi, jauh dari hooman, ever been hooman dan never been hooman yang kepo dan kurang perhatian. Mereka membangun ikatan dalam diam-sama sama merasa aman tanpa perlu saling bicara dengan suara.

Jey tumbuh dewasa [yes, she hate it too much], begitu juga semesta yang menua. Jey belajar berkelana, mendengar dan bicara. Semesta masih berdiri di sisinya. Mendengar setiap kali Jey bicara. Memeluk setiap kali Jey jatuh. Menopang setiap kali Jey merasa lelah dan kalah. Semesta setia menyerap semua gusar dan resah yang tumpah. Semesta tidak pernah diam-walau mungkin hanya Jey yang memahami bahasanya. Semesta mencintai Jey sebanyak Jey mencintainya. Semesta mengajar Jey mendengar lebih banyak, memahami tanpa menghakimi, menerima tanpa menyesali, persis seperti semestanya.

Segala sesuatu akan abadi jika terus diwariskan, itu yang Jey percaya. Kekuatan-juga kelembutan akan abadi jika terus dibagi. Semesta membutuhkan ini-para pahlawan yang tidak berhenti melindungi. Jey akan terus melakukan bagiannya-dan berdoa agar dipertemukan dengan orang orang hebat lainnya, lalu melihat semesta tertawa karena banyak cinta. Cinta dari dan untuknya.

5/5/18
Bersama Rei dan Popo
yang sibuk di pangkuan.
Sabtu-matahari sedang enggan.

💕
Jey

Tidak ada komentar:

Posting Komentar