I don't know about you guys, but as far as I know, having a penis doesn't make you being as almighty as God(s). Nggak ada yang membuatmu punya hak untuk melakukan apapun semaumu, apalagi kalo urusannya berkaitan dengan manusia lain yang disebut perempuan. Nope, you don't have any right to do catcalling, colek colek, stereotyping, sexist joke, etc etc etc. So before I talk further, let's make a deal. Aku bicara berdasarkan fakta di lapangan, pengalaman dan sudut pandang seorang perempuan. Silakan membela diri sesukamu, tapi berhentilah bersikap denial. Ingat, kalian tidak istimewa.
Sebenarnya seksualitas itu hal yang manusiawi, natural dan personal. Tubuhmu, otoritasmu, kebebasanmu. Tapi ingat, kebebasanmu pun dibatasi dengan kebebasan orang lain di sekitarmu. So yea, kalo ngomongin soal sexual activities apalagi yang melibatkan orang lain didalamnya, persetujuan itu mutlak diperlukan. Kalo salah satu pihak nggak setuju, itu namanya pemaksaan. Mau besar, kecil, sedengan, namanya tetap pemaksaan. Pelakunya pantas diberi hukuman, bukannya malah dibela dengan cara menyalahkan atau nyinyirin korban. Jangan dibiasain ya, biar manusia gagal evolusi itu nggak makin gede kepala.
Katanya, kita hidup di jaman modern. Teknologinya maju, peradaban tinggi, semua sudah serba otomatis dan sistematis. Sayangnya, otak manusia-mostly-malah bergerak mundur. Nggak tambah waras, malah tambah edan. Yes, megalomaniac misogynyst dan para simpatisannya makin mudah ditemukan. Pria pria pengumbar titit yang bermimpi punya pasangan yang selalu perawan segelan kayak air mineral botolan harga warebumaratusan.
Santai bro, gausah keburu emosi terus nyerang balik membabi picek gitu. Apalagi sampe nyalahin foto, pakaian, jam kerja, pekerjaan, sstatus muka, badan .. Inget kata pepatah, manusia nggak akan pernah bisa mengendalikan keadaan yang melingkupinya [termasuk orang orangnya juga, yes], tapi manusia selalu punya kendali penuh atas reaksi yang diberikannya. Simpulan? Kalo ngacengan ya ngacengan aja, kalo brengsek mesum murahan ya akuin aja, nggak perlu repot repot cari pembenaran karena ini anu ono. Pembelaanmu gak mutu, apalagi sampe bawa bawa Tuhan. Inget umur, malu ama kelakuan~
Sebenernya ini pengetahuan umum, tapi karena belom banyak yang paham yaudah mari kita ulangi. Bersikap ramah itu kewajiban, bukan berarti kode mau diajak main diatas ranjang. Kadang, orang ramah juga karena kebiasaan. Bukannya tukang PHP atau sengaja mau nge-friendzone. Rok mini, kemeja transparan atau bikini bukan ajakan. Situ aja suka ke ge er an. Cewek dandan bukan mancing pujian, mereka melakukannya untuk diri sendiri kok. Jalan sendirian itu hak, bukan kesempatan. Bersikap sok gentleman dengan mengakui kalo kalian horny, bahkan sempet sempetnya minta atau ngajak baik baik nggak seketika membuat kalian jadi gentlemen. Trust me, level jijiknya nggak jauh berkurang, malah kadang bisa nambah. Oh iyes, satu lagi. Bersikap acuh dan menganggap diri terlalu istimewa sampe ngerasa nggak ada seorang perempuan pun bisa menolakmu itu kampungan. So just cut it off, shall we?
Terimakasih untuk kontroversinya. I am having a good time watching you hitting my dummy brutally, kayak anak kucing ngejar ekornya sendiri. Sebagai hadiah hiburan, kuberi beberapa info berguna ..
1. Silakan bayarin jalan, makan, nonton, belanja, semuanya sesukamu. Still, enggak ya artinya enggak.
2. Temen temen lakikmu itu kebanyakan penipu. Pengetahuan mereka tentang perempuan itu sama jeleknya sama pengetahuanmu. Jadi, berhentilah bersikap sok tau.
3. She is out of your league. Kalo nggak mau kalah sebelom bertanding, yaudah jangan maju aja. Kecuali kalo emang muka tembok dan siap mempermalukan diri sendiri.
4. Ramah itu integritas. Murahan itu moralitas. See the difference?
5. Jelek itu takdir. Brengsek itu pilihan. Jelek, brengsek? Well, have yourself a cup of Jessica's coffee.
Catch you later hooman *fly away*
Freeday the 8th
Red hammock summer
10.08
Tidak ada komentar:
Posting Komentar