"Awalnya, aku merasa kayak makin sering bingung dan disorientasi tempat dan waktu. Kayak pas makan dan tiba tiba ada di sekolah, atau kayak pas mau tidur tapi tiba tiba ada di mall--lagi belanja barang barang, yang dalam keadaan normal bakal kutoleh pun enggak. Kayak ngelompati waktu tanpa sadar, dapet luka luka tanpa sebab (belakangan aku tahu itu ulahnya Zack, penumpang lain yang yang datang tanpa diundang); kaget ketemu beberapa orang yang entah gimana caranya bisa kayak udah akrab sama aku--dan nggak jarang manggil aku dengan nama yang berbeda. Aku ngeri, makin kesini intensitas ke-tidak waras-anku makin menjadi dan makin mengganggu. Aku jadi gampang capek, sering ketiduran pas lagi aktifitas (padahal seingetku aku tidur cukup setiap malam), sering pusing dan beberapa gangguan fisik ringan kayak demam atau nyeri.
Aku masih umur 14 tahun waktu itu--waktu aku mulai sadar kalo memang ada yang salah dari badanku. Supaya kalian nggak bingung, aku ceritain sedikit tentang masa kecilku. Aku terlahir kembar--aku dan adik perempuan--di usia kehamilan 6 bulan. Sama seperti semua bayi kembar lainnya, aku tumbuh sebagai bayang bayang dari kembaranku--adik perempuan yang tumbuh jauh lebih cemerlang. Ibarat satu adonan dibagi dua, adekku dapet sebagian besar adonan utama sementara aku dapet remah remahnya. Adikku tumbuh jauh lebih sehat dan ceria, sementara aku dari sononya emang lebih ringkih dan lebih diem. Aku lebih suka main sendiri sama isi kepalaku yang ramenya kayak pasar malam--aku tenggelam di dunia yang kubangun sendiri. Awalnya, aku masih bisa dijangkau mereka yang sekedar ingin tahu, tapi lama lama bahkan mereka yang awalnya antusias pun lebih suka sibuk sendiri, aku tenggelam dalam dunia yang sunyi tanpa suara. Kami--aku dan orang orang di sekitarku nggak pernah merasa perlu saling mempelajari bahasa satu sama lain karena buatku, aku bisa ditinggal sendiri dan nggak merasa sepi; sementara mereka, berpikir bahwa aku akan berubah sendiri kalo sudah besar.
Jadi bayangan itu nggak selalu enak, walaupun tuntutan sosial yang aku terima nggak sebesar yang dibebankan buat si kembaran. Aku masih dituntut untuk nggak bikin malu--nggak bikin onar, duduk manis dan menjawab sopan setiap kali ditanya sesuatu. Gara gara ini, tiap kali ada masalah yang menimpa, titik salahnya selalu ada di posisiku. 'Salahmu begini, salahmu begitu, siapa suruh kamu gini gitu. Otomatis aku jadi makin terisolasi didalem benteng buatanku sendiri. Sepanjang yang aku bisa ingat, aku nggak pernah merasa kesepian, walopun aku nggak yakin saat itu aku sudah nggak sendirian.
Makin besar, aku ngerasa makin berbeda, aku ngerasa kayak keping puzzle yang salah tempat--tapi terus memaksakan diri. Saat itu aku mulai mempertanyakan segala sesuatu yang bisa diterima tanpa tanya sama orang orang sekitarku. Budaya patriaki, pola pembagian kerja laki laki perempuan, tindakan yang pantas dan enggak, sampe hal sesederhana 'kenapa rambutku harus dibiarkan panjang, sementara temen laki lakiku nggak boleh manjangin rambut selewat telinga'. Kenapa kita nggak mendapatkan kebebasan untuk semua orang menentukan apa yang dia suka atau enggak. Kenapa ada anak durhaka sedangkan orang tua enggak. Oke, aku terdengar seperti feminazi di paragraf ini.
Aku mulai membenci badanku--dan identitasku sebagai perempuan. Menurutku, jadi perempuan itu kutukan, belenggu. Aku harus merelakan kebebasanku dilucuti satu persatu waktu aku tumbuh makin dewasa. Aku nggak pernah bisa rela. Aku kagum sekaligus heran ngeliat perempuan perempuan lain diluar sana yang bisa dengan nyaman menerima dan menjalani peran yang dibebankan tanpa tanya. Di ulang tahunku ke 15 aku bersumpah untuk tumbuh sekuat dan semandiri laki laki--aku nggak butuh mereka untuk mencapai semua mimpiku. Aku nggak tahu sih, kalo suatu hari sumpahku itu bakal bikin aku ngeri sendiri.
Kejanggalan pertama terjadi setelah beberapa hari. Suatu pagi aku bangun dengan ide aneh yang bertahan sampai beberapa minggu kemudian. Aku pengen motong rambutku, habis. Aku pengen ngelepas pelan pelan image perempuan yang lemah (menurutku saat itu--maap buat yang terpelatuk) dari badanku. Aku kira ini hanya gara gara aku sering diremehkan hanya karena aku perempuan--kurus sebiting lagi. Berhubung waktu itu aku masih terlalu cupu dan nggak tahu kemana harus cari tahu tentang apa yang salah, aku cuma bisa diam dan menyimpan semuanya sendiri. Mereka belum boleh tahu.
Semakin besar, hubunganku dengan keluarga jadi makin renggang. Bahasa kami berbeda, circle kami berkembang ke arah yang berbeda. Aku nggak lagi merasa hilang, aku menemukan rumah di tempat asing yang dibenci mereka. Akibatnya, keluargaku yang panik dan merasa terancam lebih sering memberikan hukuman dan bertindak paksa, sementara aku--karena melindungi diri--jadi makin rapat mengunci diri didalem benteng yang sudah kubangun sejak lama. Aku makin punya banyak waktu untuk menjelajah labirin pikiranku sendiri, belajar memahami apa yang sebenernya terjadi didalem sini. Lalu aku ketemu dia, untuk pertama kali. Dia menunggu, tenang, sendirian. Aku ketakutan.
Aku kira aku sudah gila. Beberapa kali dia mencoba menembus membran yang memisahkan kesadaran kami, tapi gagal entah kenapa. Just in case kalian penasaran, kami hidup berdampingan tapi nggak pernah bisa saling ketemu. Kayak siang dan malam, matahari dan bulan, kayak berdiri di masing masing sisi mata uang. Ternyata, selama aku bersikap egois dan mengacuhkan badanku sendiri untuk menderita dan (hampir) mati, dia yang mengurus badan kami, karena menurutnya ini badannya juga, walaupun dia tahu diri disini dia hanya penumpang gelap yang tidak pernah diinginkan. Dia sosok yang mungkin tanpa sadar kubangun sendiri dari tumpukan rasa benci dan tinggi hati. Selama ini, ternyata dia laki laki yang selalu kulihat sekilas waktu aku terlalu depresi dan nggak pengen lagi liat matahari. Dia itu si hantu--bayangan yang berkelana dari mimpi ke mimpi. Dia sumber kejanggalan yang sering disindir halus sama orang orang disekitarku, "Kamu kelihatan beda ya dari yang kapan hari ..". Dialah yang paling kucari, sekaligus yang paling kutakuti. Sekarang aku tahu darimana sumbernya. Ternyata dari dalam kepalaku sendiri.
Manusia selalu takut dengan segala sesuatu yang tidak dia kenali, sama seperti aku yang ketakutan setengah mati sama dia yang ternyata menghuni satu badan yang sama. Dia seperti menegaskan status burukku sebagai anomali. Mau tau apa reaksiku? Aku menyusun strategi perang. Aku harus bisa mengusir penyusup itu keluar dari sini. Aku lupa, aku dan dia itu satu. Kami mungkin tidak akan jadi berharga jika kehilangan salah satunya. Apa yang akan aku lakukan ini mungkin akan melukai diriku sendiri. Waktu itu, aku terlalu egois buat ambil peduli.
Perang itu berlangsung lama dan berat--beberapa tahun seingatku. Kondisi fisik dan mentalku menurun drastis, sama persis seperti kota yang hancur akibat peperangan. Aku sering membiarkan badanku kotor, luka, terpapar panas dna hujan, kelaparan dan hampir mati dengan satu harapan--supaya dia segera pergi. Aku nggak tahu, bahwa sama sepertiku, dia juga terjebak didalem sini. Siapa sih yang mau jadi pemeran pengganti. Emosiku berbuah dengan cepat, aku mulai terjaga jauh lebih lama, keluargaku yang mengendus perubahan drastis mulai berasumsi sendiri. Mereka pikir aku kemasukan setan. Usaha exorcism (ritual pengusiran setan agama Katolik) dimulai sejak saat ini.
Beberapa kali aku merasa puas pas berhasil mengunci diri dibalik kaca--suatu ruangan kedap udara, suara dan rasa didalem kapalaku--lalu membiarkan dia sendirian menghadapi para pendakwanya yang menginginkan dia mati. Rasanya kayak nonton film, aku bisa melihat kehidupanku berjalan tanpa aku, aku bisa bicara pada 'diriku' sendiri, mempertimbangkan segala sesuatu dari jauh. Aku bisa ngeliat dia berusaha mempertahankan diri tetap sadar pas para dokter berusaha menekannya sampai ambang batas kesadaran. Dia terpaksa berhadapan dengan kematiannya sendiri. Aku memang merasa sakit--limpahan rasa sakit yang tidak bisa ditanggungnya sendiri. Aku marah, takut dan mulai ngeri, tapi sama sekali tidak ingin berhenti. Mungkin memang aku sudah mulai gila.
Apa yang tersisa dari sebuah peperangan selain abu dan arang dari pihak yang kalah dan yang menang? Aku sudah berubah jadi seonggok daging dan darah setelah semua hari yang kuisi dengan kemarahan, benci dan dendam. Aku lelah dan merasa kalah, aku tahu dia juga merasakan hal yang sama. Orang bilang, pelangi terindah akan terbit setelah badai terparah. Mungkin sekarang badai kami mulai reda. Kami memang belum bisa saling bicara. Tanpa kata, kami berdua menyepakati gencatan senjata. Kami mundur sampai titik aman, lalu mencoba berdamai dengan diri sendiri sebelum mulai berdamai dengan sisi satunya.
Proses berbaikan dengan diri sendiri memang nggak semudah yang dibilang. Beberapa kali kami bersikap keterlaluan, dan mulai saling melukai lagi. Keseimbangan yang baru lahir masih serapuh bayi, kami harus menjaganya hati hati. Di waktu yang sama, kami juga harus secepat mungkin membangun topeng "baik baik saja" yang bisa menghalau para pahlawan kesiangan yang penasaran. Apa itu melelahkan? Banget! Apa kami pernah merasa lelah dan tergoda untuk mulai mencoba memonopoli badan ini lagi? Iyaa, berkali kali! Kami mengorbankan hampir semua aset yang kami punya. Tenaga, waktu, mimpi, cita cita, emosi. Mungkin saja sebenarnya saat itu kami sudah terlalu lelah dan miskin untuk mencoba berperang lagi.
Nyatanya, menyatukan dua pribadi dalam dua tubuh yang berbeda saja sulit, apalagi menyatukan dua pribadi yang tinggal di satu kepala yang sama. Aturan dibangun tambal sulam. Kekuasaan dibagi secara rebutan. Keseimbangan baru dirancang, tapi rasanya kami agak kurang pintar bekerja sama. Sesekali kami masih saling menyerang. Dia benci pacar baruku, aku benci namanya. Dia benci rok mini ku, aku benci rambut kaktusnya. Dia benci circleku, aku benci buku bukunya. Kami marah sering kali, tapi selalu belajar untuk mengingat bahwa kami ini saling menyayangi. Setidaknya kami berusaha, kan?
Kondisiku membaik dengan cepat sejak saat itu. Aku jadi jauh lebih sehat, lebih ramah (sebelumnya, aku dijuluki ratu es batu saking dingin, hambar dan menyebalkan). Emosiku jadi stabil dan jauh lebih tenang. Aku jadi seteguh batu karang, walaupun goncangan nggak pernah berhenti datang. (Oke yang ini narsisnya keterlaluan, tapi gapapa deh ya sesekali). Aku sadar, nggak ada manusia yang sempurna. Tapi tetep aja, jadi indah itu pilihan, kan? Saat ini aku memilih untuk berbahagia.
-J, Hari pertama tahun Popo Bumi
11.42 PM
Tidak ada komentar:
Posting Komentar