Minggu, 09 September 2018

Diskrimi .. nasi~

Ceritanya Jey lagi kurang kerjaan ..

Taman kota, walopun kelihatannya sederhana, sebenernya bisa jadi alternatif tempat yang menyenangkan buat nongkrong menghabiskan waktu. Emang sih, kalo weekend biasanya tempatnya bakal berasa kayak gelas cendol tukang es. Banyak orang menghabiskan waktu disana. ngajak anak anak jalan jalan, manula yang rajin olahraga, sampe remaja yang lagi dating murah meriah. Berhubung sekarang masih lumayan pagi dan tengah minggu lagi, kudunya taman kotanya lumayan sepi. Tempat sempurna buat duduk baca cerita sambil berderma sama puss puss liar disana.
Sayangnya, kenyataan kadang nggak seindah yang diharapkan.

Walopun nggak se-rame di akhir pekan, kondisi taman kota yang nggak begitu luas hari ini lumayan meriah karena kedatangan siswa siswa dari 2 sekolah berbasis agama yang hebohnya ngalahin pasar malem. Nggak papa sih, namanya juga anak anak. Di tempat terbuka juga kan .. Kasian loh anak anak jaman sekarang, kebanyakan dilarang .. Jadi sekalinya dikasi kebebasan dikit, bahagianya gak ketulungan. Yang bikin shock, di salah satu sudut taman ada guru guru dengan kostum burqa hitam  lagi bagi bagi masker ke siswa perempuan dengan satu pesan menakutkan: "dipake ya maskernya. Jangan dilepas loh, nanti dosa!" nah tuh ..

Jey yang kebetulan melintas pasang tampang sok cool, pura pura nggak tau apa apa. Beberapa siswa perempuan yang ngantri masker menatap penasaran. Jey jelas nggak merasa bersalah, karena menurutnya pakaiannya sopan dan sangat baik baik saja. Kaos dan celana panjang longgar dilapis jaket jeans, sepatu dan ransel segede bocah minggat dengan rambut keriting diiket diatas kepala. tiba tiba seorang bocah nyeletuk agak kenceng,
"Ustadzah, dia nanti masuk neraka ya karena nggak menutup aurat?"
Sumpah, Jey bisa ngerasain si bocah menudingkan jarinya ke punggung Jey yang sebenernya tergoda buat balik badan dan ikutan nguping penjelasan si guru yang ditanya.
"Iya. Sudah ya, sekarang sekarang maskernya dipake. Sudah ditunggu teman-teman tuh. Yuk."
Duarrrr .. Jey langsung kepingin murka.

Di tempat teduh, Jey duduk diatas batu, baca buku sambil ngeliatin anak anak sekolah bersenang senang. Sesekali, para guru yang suka curiga itu melirik dengan tatapan sadis, seolah olah Jey bagian dari sindikat penculikan anak or something, gitu .. Atau mungkin mereka nggak nyaman berada di sekitar orang yang beda golongan sama mereka? atau mereka cuma penasasaran? atau ada hal lain?

Sebenernya, sebagai seorang manusia jejadian, nggak sekali dua kali Jey mengalami tindakan diskriminatif dari lingkungan sekitarnya. Entah para misoginis kapiran, feminis salah jalan, manusia manusia lurus mulus halus kayak jalan tol baru diaspal, incels gagal orgasme, bahkan para makelar kapling surga yang merasa diri paling suci dunia akherat. Tapi baru kali ini loh Jey diliat kayak sirkus orang aneh sama anak anak TK yang (harusnya) lagi belajar berbudaya~

Katanya, agama datang membawa kedamaian. Kerukunan umat menciptakan keteraturan. Indonesia negara Bhinneka. Mayoritas melindungi minoritas. Kok Jey sama sekali nggak berasa ya? Minoritas harus tau diri, katanya. Hormati mereka yang ada dimana-mana. Hormat seperti apa seharusnya? Apa kurang Jey nggak jalan ke taman pake baju zumba? apa kurang Jey ikutan minggir kalo lagi papasan di jalan, biar nggak sampe sentuhan karena "najis bin haram"? Apa iya, kudu terima juga dilecehkan sama kaum pejantan mereka dengan alasan baju dan kegiatan, pergi tanpa pendampingan, atau sikap frontal yang kadang dianggap 'menggemaskan'?

Perlu banget ya ngajarin anak anak kecil membenci orang yang 'berbeda' dengan pilihan hidup mereka? Perlu banget menanamkan ketakutan 'masuk neraka, dosa, nggak berharga' hanya karena orang lain memilih jalan yang berbeda? Well, kudunya sih anak anak perlu tahu bahwa nggak semua orang mengambil jalan yang sama seperti yang dipilihkan orang dewasanya untuk mereka. Anak anak perlu tahu bahwa perbedaan itu wajar dan tidak berbahaya. Anak anak perlu tahu bahwa bumi ini milik semua ciptaan, bukan hanya milik satu golongan.

Hari makin siang, cuaca panas juga makin garang. Jey sudah selesai dengan buku dongengnya. Masih dengan diiringi tatapan penasaran yang nggak terdefinisikan dari para bocah dan kucing liar yang masih pengen minta makan, Jey ngungsi ke warung terdekat demi segelas es teh jumbo dan sepiring mie instan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar