How is it feels like to have a tempramental spouse?
Kebayang nggak sih--atau malah udah berpengalaman--punya pasangan yang nggak stabil secara emosional? Misalnya nih, kepercayaan dirinya rendah banget, mudah marah karena hal hal kecil, menuntut perhatian ekstra setiap saat, nggak percayaan sama pasangan, atau bahkan sampai melukai secara mental dan fisik? That is emotionally exhausting. We mean it ..
"Rasanya kayak berjalan diatas lapisan es tipis, atau tumpukan kulit telur. Err.. lrbih mirip ladang ranjau sih kayaknya. Kamu harus merencanakan langkahmu dengan sangat hati hati, karena kalo salah melangkah sedikit aja ledakannya bisa menghancurkan seisi rumah. Apalagi kondisi kami sudah menikah. Sudah punya bayi pula .. Banyak hati yang kudu dijaga. Banyak tenaga yang kudu disiapkan. So, for most of the time, it hurts .."
22 y.o. mom
"Kayak dipaksa naik roller coaster yang nggak bisa berhenti. Nggak peduli kamu pusing, mual, muntah, pingsan, hampir mati. Bisa sih sesekali bikin jeda. Tapi turun dari sana rasanya juga bukan pilihan yang menyenangkan. Bener atau salah, kita tetap salah. Terima atau enggak, minta maaf dan menerima kemarahan tanpa melawan itu sebuah keharusan. Bukan pilihan."
26 y.o. boyfriend
"Dengerin gravity-nya Sara Bareiles. Untuk sekarang, lagu itu sudah cukup menjelaskan perasaanku. Bedanya, I always fall another moment into your gravity, even if I don't like it. Bego, emang. Tapi nggak tau caranya jadi pinter sih, jadi gimana yaa .."
28 y.o girlfriend
"so, at first, rasanya seru liat drama televisi dengan karakter cewe ceroboh yang terikat hubungan romantis dengan cowo muka besi yang beda muka beda belakang. Jadi ngebayangin, gimana rasanya dicintai cowo kayak gitu, diperlakukan sebagai seorang princess-secretly- .. baper?
Ada yang pernah kesampean punya pasangan kayak gitu? Mau berbagi cerita? Okay, I'll tell you mine. I've been in a relationship with that kind of person. Extra (mentally) abusive yet estra (physically) romantic. Rasanya malah kayak pengen mati. Apa enaknya dibentak bentak, dimarahin, dicurigain 24/7, dikata katain ini itu, bahkan dipermalukan didepan umum tapiii begitu kita ngerasa sakit, muak, cukup, dianya datang minta maaf dengan cara yang bener bener romantis sampe kita gabisa nolak. Seketika, semua marah, gusar, jengkel, ngambek, emosi mencair kayak es kutub kena pemanasan global. Oh, ternyata aku dicintai segitunya. Kita akan tergoda untuk mencari alasan demi memaafkan dia. meyakinkan diri sendiri bahwa sejak saat ini untuk seterusnya sikapnya bakal semanis dan selembut ini. Bahwa sebenarnya kita beruntung dicintai sedalam dan sepanas ini. Dia adalah anugerah terindah yang Tuhan kasih buat kita .. tanpa dia, kita hampa.
Again, it never lasts ..
Circle tindakan irasional-abusivenya bakal berulang lagi dan lagi. Kayak naik roller coaster yang nggak berhenti itu .. diselingi "obat" helpless romanticnya yang seketika bikin kita lupa sama sama semua sakitnya. Rasanya? Kayak dicelup air panas dan air es gantian. Ajur!
Lah terus kudu gimana?
Selesaikan. Putus tindakan abusive-romanticnya dengan cara yang disepakati berdua. Omongin akar masalahnya. Buat kesepakatan. Evaluasi secara berkala. Si pelaku harus sadar bahwa tindakannya itu salah dan menyakiti pasangannya. Kita sendiri sebaliknya-juga harus tau cara menjaga emosi pasangan yang sudah jelas lagi nggak baik baik saja itu. sebuah escape plan bersama harus direncanakan. Yakinkan diri kalian bahwa semuanya pasti baik baik saja.
Nah kalo ga mempan juga?
Well .. all I can say is Love Yourself First.
Love You, Earthlings~
Alien.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar